Profil

gue

Gimana Sih Sejarah Berdirinya WASKAD …?

Mengapa LSM Waskad ini di dirikan?… yang pasti bukan karena iseng lho… Perjalanan pendirian LSM ini memang cukup panjang juga sih.. ya, lebih kurang 2 tahun-an lah… Mungkin.., satu satunya ya di Indonesia yang mau ndirikan LSM aja butuh waktu begitu lama. Yang pasti semua itu tentu ada alasannya.

Begini ceritanya brurrrr….

Gagasan pendirian LSM ini memang bermula dari ide saya (Kasiono, SP). Setelah lebih kurang 8 tahun saya merantau bekerja di luar Jambi (Ke Medan, Pekan baru dan terakhir di Palembang) akhirnya pada tahun 2006 saya balik lagi ke Jambi dan menetap di Kota Lintas (Muara Bungo) ini. Setahun pertama saya terus mengamati kondisi sosial, culture, ekonomi, prilaku politik dan model cara berfikir masyarakat di Muara Bungo. Secara jujur saya katakan, ada kekeringan dinamika intelektual disini. Perjalanan sosial politik begitu monoton dan hampir tidak saya temukan budaya kritis di tengah masyarakat maupun kalangan muda. Aroma kesukuan, premanisme dan pragmatisme sangat kental di tubuh organisasi-organisasi yang mengatas namakan LSM, Ormas, OKP, maupun organisasi kemahasiswaan yang ada di Kota Lintas ini. Seakan tidak terjadi apa-apa di daerah ini. Padahal sejauh pengamatan saya, banyak hal yang perlu dikritisi di darah ini. Pada waktu itu, untuk mencari tempat yang sekedar untuk berdiskusi mengasah intelektualitas saja sangat sulit sekali.

Saya mulai bertemu dengan teman-teman yang punya fikiran dan perasaan yang sama dengan saya ketika saya aktif mengikuti pengajian rutin setiap minggu (liqo’at). Di sini saya bertemu dengan Ustazd Hafis,  Ismail Syafruddin, SP, Fahrurrozi, SP, Gusmahendra, SH, Ronal Dison, S.IP, Bang Marwansyah, RH dan Bang Andriansyah, SE (putra sulung Bupati Bungo). Kemudian kami mencoba menyatukan pola fakir, visi dan misi untuk mendirikan sebuah lembaga yang dapat dijadikan wadah untuk menyalurkan gagasan-gagasan dan daya kreatifitas yang dapat berguna bagi kemaslahatan ummat. Kami pun mulai bagi-bagi tugas, saya ditugaskan untuk menyiapkan konsepsi AD/ART dan kerangka dasar pendirian LSM, sementara rekan-rekan yang lain ada yang bertugas menginventarisir personil kepengurusan, merancang nama dan logo LSM, merencanakan program kerja jangka pendek dan jangka panjang. Akhirnya semua konsepsi selesai dan pada awalnya kami beri nama LSM ini PUSAKA (Pusat Studi dan Kajian Daerah) yang memfokuskan diri dalam bidang advokasi, kewirausahaan, agroteknologi, pendidikan dan dakwah.

Rapat koordinasi perdana pun di gelar dengan tujuan menyusun komposisi Badan Pengurus. Sungguh luar biasa dan diluar dugaan, jumlah peserta rapat membludak jauh dari rencana awal yang hanya ingin menghadirkan ± 15 orang ternyata yang hadir mencapai 50 orang dan sebagian besar wajah-wajah yang tidak kami kenal. Setelah kami telusuri, ternyata faktornya adalah karena salah satu pendiri LSM PUSAKA ini adalah seorang ANAK BUPATI. Sehingga banyak orang yang ingin masuk kedalam kepengurusan LSM karena “ingin kenal dan ingin dekat “ dengan sang anak Bupati Bungo tersebut. Keraguan dan kecurigaan pun mulai muncul dalam benak kami (para pendiri), tapi kami tetap berusaha untuk positif thinking aja, dan mereka pun kami akomodir dan kami leburkan dalam kepengurusan.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, kecurigaan kami pun terjawab. Para “new commer” inipun mulai sibuk sikut sana sini  dan berlomba-lomba untuk meloby sang anak Bupati. Ada yang minta proyek, minta pekerjaan, minta di back-up untuk masuk pegawai negeri, sampai ke persoalan loby-loby politick kepada sang anak Bupati. Kondisi ini tentu membuat atmosfer yang kurang sehat di internal lembaga . Mereka sibuk mengutamakan kepentingan pribadi masing-masing sehingga menyebabkan program lembaga jalan di tempat. Dan yang paling penting dan prinsipil adalah, pola gerak pengurus yang opportunis tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran arah, landasan, visi, misi, dan semangat awal didirikannya LSM PUSAKA. Akhirnya, beberapa orang dari kami sebagai pendiri, mengambil sikap untuk membekukan dan akhirnya membubarkan LSM PUSAKA dan mengganti namanya menjadi WASKAD (Wahana Studi dan Kajian Daerah) dengan merombak total kepengurusan bahkan Badan Pendirinya. Personil pengurus dan pendiri yang kami anggap tidak sesuai dengan visi dan misi lembaga tidak kami akomodir lagi di WASKAD. Akhirnya pada tanggal 28 Januari 2008 LSM WASKAD resmi didirikan dengan terbitnya AKTA NOTARIS bernomor 62 dari kantor Notaris dan PPAT Suprayitno, SH, di Muara Bungo, Propinsi Jambi.

Pendiri LSM WASKAD, yakni Kasiono, SP (saya sendiri), Andriansyah, SE, H. M. Zaki, M.PIR, Marwansyah RH, Ronal Dison, S.IP. Sedangkan personil kepengurusan kami prioritaskan kalangan akademisi, praktisi, dan professional.

Tidak hanya kepengurusan dan nama yang berubah. Pola dan arah pergerakan Waskad lebih di titik beratkan kepada pola-pola ilmiah dan profesonal. Pengkajian, penelitian, survey dan investigasi selalu dijadikan landasan terminology dalam penyusunan rencana program kerja dan pergerakan Waskad.

Sebagai koridor, semangat, dan ruh  bagi coorp Waskad, maka dibuat sebuah trade mark atau jargon ;

“The Miracle’s of Idealism”

Karena saat ini “idealisme” sudah menjadi barang langka yang nyaris punah. Persepsi masyarakat tentang idealisme harus didudukkan pada tempatnya. Persepsi  terbalik di tengah masyarakat yang mengatakan “Anda tidak akan bisa sukses dan kaya jika anda tidak menanggalkan idealisme” harus ditampik dan dijawab dengan sebuah bukti nyata bahwa “Idealisme dapat mendorong daya kreatifitas, inovatifitas, profesionalitas, kejujuran dan kemandirian serta kekuatan fikir yang luar biasa sebagai landasan seseorang untuk sukses dalam hidup dunia dan akhirat”.

….good enough/sampun cekap/sudem/alah cukui’…..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.